Tentang Anne Frank

on Minggu, 22 Mei 2011
Dalam Perang Dunia II--dan bencana kemanusiaan lainnya--rakyat jelata adalah pihak yang paling menderita. Tapi, mereka jugalah yang selalu paling mudah terlupakan. Kalo disuruh nyebutin orang-orang yang terlibat dalam Perang Dunia II, mungkin yang segera teringat adalah tokoh ternama macam Hitler, Eisenhower, atau mungkin Oppenheimer (wow, namanya berima!)--bukan gadis muda yang dipaksa menjadi budak seks, orang tua yang kehilangan anaknya di medan perang, ataupun keluarga yang harta bendanya ludes dan harus mengungsi akibat perang.
Untungnya, masih ada orang yang mau repot-repot menuliskan pengalaman hidupnya di tengah hiruk-pikuk Perang Dunia II--yang konon merupakan perang terbesar dalam sejarah. Berkat mereka, kita bisa mendapat sedikit gambaran tentang perang dari kacamata orang kebanyakan--sekaligus mengambil pelajaran darinya. Anne Frank adalah salah satunya.
Anne Frank sebetulnya adalah gadis remaja yang biasa-biasa aja. Seperti cewek-cewek seumurnya, Anne sering mengkhawatirkan hal-hal sepele seperti nilai, pacaran, juga konflik dengan ortu yang sama sekali gak memahami dirinya. Anne biasa menuliskan segala buah pikirannya dalam sebuah buku harian--hadiah ulang tahunnya yang ke-13--yang diberinya nama “Kitty”.
Isi buku harian Anne menjadi semakin “menarik” saat kehidupan normal sang penulis berubah total. Ketika tentara Jerman--yang menduduki Belanda, tempat Anne tinggal--semakin giat menjaring penduduk keturunan Yahudi (dan juga “ras“ lain yang dianggap rendah oleh NAZI, seperti Polandia dan Gipsi) untuk dikirim ke tempat kerja paksa, Otto Frank Sang Ayah memutuskan untuk mengungsikan keluarganya ke persembunyian. Lokasi persembunyian ini adalah sebuah ruang rahasia--dalam buku disebut sebagai “The Secret Annex”--yang terletak di sebuah kantor tempat salah seorang kenalan Otto Frank bekerja. Di sana, keluarga Frank (Otto, Edith Sang Ibu, Margot Si Kakak Perempuan, dan Anne) tinggal bersama empat orang lainnya selama sekitar dua tahun.
the whole story
Bayangin aja, gimana rasanya tinggal di persembunyian dalam jangka waktu begitu lama tanpa boleh keluar sama sekali? Bosan pastinya. Untuk mengusir perasaan bosan selama di persembunyian, Anne ikut sekolah jarak jauh, membaca buku pinjaman (lewat jasa seorang “kurir”, yaitu seorang kenalan yang mengetahui keberadaan Anne dll), mendengarkan radio (tentu saja bareng ama yang lainnya), belajar menari (secara otodidak), mengoleksi biografi artis (!), ngobrol, dan tentu saja, menulis. Kebosanan akibat suasana yang monoton mungkin bisa diusir, tapi gimana kalo bosen ama sesama penghuni Annex? (Perasaan yang wajar mengingat mereka selalu bersama, 24 jam sehari.) Sayangnya, orang-orang ini gak bisa diusir dan rasa muak melihat manusia yang sama 24 jam sehari acapkali berujung pada pertengkaran antar penghuni.
Sifat Anne yang kritis--gak seperti dua orang anak lain yang tinggal di sana yaitu Margot dan Peter van Pels--selalu membuatnya kena marah para orang dewasa setiap kali terjadi perdebatan antar penghuni. Anne selalu punya pendapat sendiri dan dia gak pernah ragu untuk mengemukakan pendapatnya. Akibatnya, orang dewasa mengecapnya sebagai anak yang gak punya sopan santun. Dalam tulisan-tulisannya, sifat Anne yang satu ini kentara sekali--bukan cuma tindakan orang dewasa yang dipertanyakannya, tapi juga peristiwa yang terjadi di sekitarnya, salah satunya ya soal perang.
Selain menulis tentang perasaannya, Anne juga menulis tentang susahnya hidup di masa perang, di persembunyian pula. Gimana susahnya mendapatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari (yang kadang cuma tersedia di pasar gelap dengan harga selangit), gimana repotnya untuk sekedar (maaf) buang hajat, gimana seremnya kalo ada serangan udara, gimana mereka kadang mengonsumsi valerian--akar-akaran yang punya manfaat sebagai obat penenang--untuk mengurangi ketegangan, dll.
Sayangnya, kisah Anne gak berakhir bahagia. Pada bulan Agustus 1944, Annex digerebek oleh polisi rahasia Jerman dan penghuninya dibawa ke kamp konsentrasi. Anne meninggal beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir dan Otto Frank menjadi satu-satunya penghuni Annex yang selamat dari kekejaman kamp konsentrasi.
Anne menyatakan bahwa ia bercita-cita menjadi penulis. Meskipun “The Diary of a Young Girl” merupakan satu-satunya karyanya, cita-cita Anne boleh dibilang telah terkabul. Lewat buku hariannya, Anne bukan hanya membuat namanya tak terlupakan--seperti layaknya penulis kondang yang karyanya gak lekang dimakan zaman--tapi juga menyuarakan perasaan seorang korban Perang Dunia II, mewakili orang-orang yang gak bisa menyuarakan penderitaan mereka.
bisnis bareng duwi